Wisata Ziarah Sejarah dan Karomah Makam Keramat Empang Bogor

Wisata Ziarah Sejarah dan Karomah Makam Keramat Empang Bogor

Di Kelurahan Empang, Bogor Selatan, berdiri Masjid An Nur, yang lebih dikenal warga sebagai Masjid Keramat Empang. Di kompleksnya dimakamkan Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas, ulama asal Hadhramaut yang berdakwah di Bogor pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Nama “Empang” punya asal-usul sederhana. Dulu kawasan di sekitar masjid dikelilingi kolam ikan atau empang, sehingga warga menyebutnya Masjid Empang. Sebutan itu kemudian melekat pada kampung dan makamnya.

Hingga kini, makam ini menjadi salah satu tujuan ziarah paling ramai di Bogor, terutama pada malam Jumat dan saat peringatan Maulid Nabi.

Riwayat Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas

Menurut kitab manaqibnya, Habib Abdullah lahir di Desa Haurah, Hadhramaut, Yaman, pada Selasa, 20 Jumadil Awal 1265 H (sekitar 1849 M). Nasabnya bersambung kepada Nabi Muhammad SAW melalui keluarga Al-Attas.

Masa belajar. Pendidikan rohaninya dimulai dari sang ayah, Habib Mukhsin Al-Attas. Beliau belajar Al-Qur’an kepada Syekh Umar bin Faraj bin Sabah dan sudah hafal Al-Qur’an pada usia 17 tahun. Gurunya yang lain antara lain Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Attas dan Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas dari Wadi Amd, Hadhramaut.

Haji dan perjalanan ke Nusantara. Beliau berhaji pertama kali pada 1282 H dan bertemu banyak ulama di Tanah Suci. Setelah haji kedua pada 1283 H, beliau berlayar ke Nusantara.

Di Jawa, beliau mula-mula tinggal di Pekalongan dan berguru kepada Habib Ahmad bin Muhammad bin Hamzah Al-Attas. Perjalanannya berlanjut ke Batavia, termasuk berziarah ke makam Habib Husein di Luar Batang atas anjuran gurunya. Dari sana beliau akhirnya menetap di Empang, Bogor.

Kajian akademik mencatat masa dakwah beliau di Empang berlangsung pada 1314–1351 H, atau sekitar 1895–1933 M. Beliau wafat dan dimakamkan di Empang pada akhir periode itu.

Masa di Penjara dan Kisah-Kisah Karomah

Salah satu babak paling dikenal dalam hidup Habib Abdullah adalah ketika beliau dipenjara oleh pemerintah Hindia Belanda karena fitnah. Kisah-kisah di bawah ini bersumber dari manaqib dan cerita yang diwariskan para pecintanya. Kisah ini dibaca sebagai riwayat keteladanan, bukan catatan sejarah yang bisa dibuktikan.

Penjara yang menjadi tempat bersilaturahim. Selama ditahan, justru semakin banyak orang datang menjenguk dan meminta doa. Para penjaga sampai kewalahan dan mengusulkan agar beliau dibebaskan lebih awal. Habib Abdullah menolak dan memilih menjalani hukumannya sampai selesai.

Para pecintanya sering menyandingkan kisah ini dengan Nabi Yusuf AS, yang juga dipenjara karena fitnah lalu dimuliakan setelah bebas.

Pilihan untuk bersabar. Diriwayatkan, pada suatu malam beliau didatangi leluhurnya, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas, penyusun Ratib Al-Attas. Sang leluhur memberinya pilihan: keluar dari penjara saat itu juga, atau bersabar. Beliau memilih bersabar. Dalam riwayat yang sama, beliau juga bermimpi bertemu Al-Faqih Al-Muqaddam dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Kunjungan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi. Ulama asal Surabaya ini dikisahkan menjenguk beliau di penjara. Ia menggambarkan Habib Abdullah tampak sangat berwibawa. Keduanya lalu berpelukan dan menangis.

Belenggu yang terlepas. Dikisahkan pula, borgol di kaki beliau terlepas setiap kali beliau memandangnya. Ketika kepala penjara memerintahkan agar leher beliau dirantai, rantai itu pun terlepas. Tak lama kemudian, kepala penjara dan keluarganya jatuh sakit demam yang tak kunjung sembuh. Mereka akhirnya meminta doa kepada Habib Abdullah, dan dengan izin Allah mereka pun sembuh.

Ikan di kolam Empang. Kisah lain yang populer terjadi setelah beliau menetap di Empang. Seorang warga menantang beliau menunjukkan karomahnya saat beliau sedang makan ikan. Dengan izin Allah, sisa ikan itu disebut melompat hidup kembali ke kolam.

Apa pun cara kita memahami kisah-kisah ini, pesan intinya jelas: kesabaran menghadapi fitnah, dan kesediaan mendoakan orang yang menyakiti.

Menetap di Empang dan Warisannya

Setelah bebas, Habib Abdullah mencari tempat yang tenang dan jauh dari keramaian. Pilihannya jatuh ke Empang, yang saat itu masih sepi penduduk. Di sana beliau membeli tanah, membangun rumah sederhana, lalu mendirikan masjid yang kini menjadi pusat kampung.

Peziarah membaca doa di ruang makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas, Empang
Pintu masuk ruang makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Attas di Empang.

Kompleks makam. Selain Habib Abdullah, di kompleks ini dimakamkan pula putra-putrinya:

  • Habib Mukhsin bin Abdullah Al-Attas
  • Habib Zen bin Abdullah Al-Attas
  • Habib Husein bin Abdullah Al-Attas
  • Habib Abu Bakar bin Abdullah Al-Attas
  • Syarifah Nur binti Abdullah Al-Attas

Di sana juga dimakamkan murid kesayangannya, Habib Alwi bin Muhammad bin Thohir, serta Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, pimpinan Pondok Pesantren Al-Busro Depok.

Area makam di kompleks Masjid Keramat Empang, Bogor
Area makam di kompleks Masjid Keramat Empang.

Rumah peninggalan. Di samping masjid masih berdiri rumah beliau seluas sekitar 200 meter persegi, yang kini ditempati keturunannya. Rumah ini menyimpan gamis, sorban, tempat tidur, dan tongkat beliau, serta sebuah kamar khusus untuk berzikir. Di sana juga tersimpan sekitar 100 kitab dari koleksi awal yang konon mencapai 850 judul.

Masjid, makam, dan rumah ini dijaga oleh Khalifah Empang, keturunan beliau yang diberi amanah. Kunjungan ke dalam rumah hanya bisa dilakukan dengan izin Khalifah.

Ratib dan kitab. Semasa hidupnya, beliau rutin mengajarkan Ratib Al-Attas dan Ratib Al-Haddad kepada murid-muridnya setiap selepas Magrib. Beliau juga dikaitkan dengan kitab Fathur Rabbaniyah.

Jejak keturunan. Salah satu keturunannya yang paling dikenal dunia adalah cucunya, Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Beliau filsuf dan cendekiawan Muslim asal Malaysia kelahiran Bogor, yang wafat pada Maret 2026.

Panduan Berziarah

InfoKeterangan
AlamatJl. Lolongok, RT 02/RW 04, Kel. Empang, Kec. Bogor Selatan, Kota Bogor
Kegiatan rutinPengajian dan pembacaan Maulid Ad-Diba’i setiap malam Jumat
Acara tahunanPeringatan Maulid Nabi, dihadiri jamaah dari dalam dan luar Bogor
Waktu paling ramaiMalam Jumat dan saat Maulid

Tips memilih waktu:

  • Ingin ziarah dengan tenang? Hindari malam Jumat, karena peziarah dan pedagang di sekitar masjid sangat ramai.
  • Ingin ikut pengajian dan pembacaan Maulid? Justru datanglah pada malam Jumat. Ruang tengah masjid biasanya hanya dibuka saat pengajian tersebut.

Adab berziarah:

  • Kenakan pakaian sopan yang menutup aurat. Perempuan dianjurkan memakai kerudung.
  • Jaga ketenangan di area makam dan hormati jamaah yang sedang beribadah.
  • Rumah peninggalan Habib Abdullah bukan area terbuka. Jangan masuk tanpa izin Khalifah Empang.
Salah satu ruang di dalam kompleks Masjid Keramat Empang
Salah satu ruang di kompleks Masjid Keramat Empang. Hormati area yang bertanda khusus petugas.

Hikmah dari Empang

Kisah Habib Abdullah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak hilang karena fitnah. Saat dipenjara, beliau menolak bebas lebih awal dan tetap mendoakan orang yang menyakitinya.

Berziarah ke Empang bukan untuk mengagungkan manusia. Tujuannya mengingat kematian, mendoakan orang saleh, dan meneladani kesabaran, ilmu, serta akhlaknya.