Di tengah permukiman padat Penjaringan, Jakarta Utara, tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa, berdiri Masjid Jami Keramat Luar Batang. Di dalam kompleksnya terdapat makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus, ulama yang dikenal sebagai salah satu penyebar Islam di tanah Betawi.
Hampir tiga abad setelah beliau wafat, makam ini masih ramai didatangi peziarah dari Jakarta maupun luar kota. Tempat ini kini menjadi salah satu tujuan wisata religi paling dikenal di ibu kota. Artikel ini mengajak Anda mengenal sosok Habib Husein, kisah di balik nama “Luar Batang”, dan hal-hal yang perlu diketahui sebelum berziarah.
Siapa Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus?
Habib Husein adalah ulama dan mubaligh keturunan Arab dari Hadhramaut, Yaman. Beliau berasal dari keluarga Alaydrus, yang nasabnya diyakini bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.
Sebelum menetap di Batavia, beliau berdakwah di beberapa wilayah Nusantara, di antaranya Aceh, Banten, dan Semarang. Sekitar tahun 1736, beliau tiba di Batavia melalui Pelabuhan Sunda Kelapa.
Di kawasan pesisir inilah beliau tinggal, mengajar, dan berdakwah kepada warga sekitar. Tempat beliau mengajar kemudian berkembang menjadi masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Jami Keramat Luar Batang.

Habib Husein wafat pada 24 Juni 1756 dan dimakamkan di kompleks masjid tersebut.
Dari Mana Nama “Luar Batang” Berasal?
Ada dua penjelasan yang beredar. Yang satu hidup dalam tradisi lisan masyarakat, yang lain bersandar pada catatan sejarah kota Batavia.
Versi tradisi lisan. Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, jenazah Habib Husein semula hendak dimakamkan di kawasan Tanah Abang atau Koja. Namun jenazah beliau disebut menghilang dari keranda, yang dalam bahasa setempat disebut kurung batang, lalu kembali ke tempat tinggalnya. Kejadian ini dikisahkan berulang beberapa kali, hingga warga memutuskan memakamkan beliau di tempat itu. Dari sinilah muncul sebutan “Habib Luar Batang”, yang lalu melekat pada nama masjid dan kampungnya.
Versi sejarah. Penjelasan lain mengaitkan nama ini dengan letak wilayahnya. Pada masa VOC, muara Kali Ciliwung dijaga dengan boom, yaitu penghalang dari batang kayu dan besi untuk mengatur kapal yang keluar-masuk. Kawasan di seberang penghalang itu dikenal dalam bahasa Belanda sebagai buiten de boom, artinya “di luar boom”. Sebutan inilah yang diduga menjadi “Luar Batang”.
Kedua versi ini tidak harus dipertentangkan. Versi pertama menunjukkan betapa besar rasa hormat masyarakat kepada Habib Husein. Versi kedua membantu kita memahami kampung ini sebagai bagian dari sejarah pelabuhan Batavia.
Abdul Kadir, Murid Setia Keturunan Tionghoa
Di ruang makam yang sama dengan Habib Husein, terdapat makam seorang murid bernama Abdul Kadir. Beliau adalah keturunan Tionghoa.
Kisahnya berkaitan dengan peristiwa 1740–1741, ketika VOC menumpas warga Tionghoa di Batavia. Abdul Kadir dikisahkan diselamatkan oleh Habib Husein dari kejaran VOC. Setelah itu, ia memeluk Islam dan menjadi pendamping setia beliau hingga akhir hayat.
Kisah ini sering terlewat, padahal maknanya dalam. Di tengah masa kekerasan, Habib Husein memilih melindungi orang yang terancam, tanpa memandang asal-usulnya. Dua makam yang berdampingan itu menjadi pengingat bahwa dakwah beliau tumbuh dari kasih sayang.
Suasana Kompleks dan Kegiatan Peziarah
Kompleks ini terdiri atas ruang salat utama dan ruang ziarah. Ruang ziarah dipisahkan antara peziarah laki-laki dan perempuan.

Kebanyakan peziarah datang untuk berdoa, membaca tahlil, dan mengenang perjuangan Habib Husein. Banyak pula yang datang untuk ngalap berkah, yaitu memohon keberkahan kepada Allah SWT sambil mengambil teladan dari kehidupan seorang wali-Nya. Doa tetap ditujukan kepada Allah, bukan kepada makam atau sosok yang dimakamkan.
Di sekitar area wudu dan ruang khusus perempuan, terdapat sebuah sumur yang airnya kerap diambil peziarah. Masyarakat menyebutnya sumur keramat.
Panduan Berkunjung

| Info | Keterangan |
|---|---|
| Alamat | Jl. Luar Batang V No. 10, RT 6/RW 3, Penjaringan, Jakarta Utara |
| Jam buka | Setiap hari, 24 jam |
| Waktu paling ramai | Kamis malam (malam Jumat) dan menjelang Ramadhan |
| Biaya masuk | Gratis |
Adab berziarah:
- Kenakan pakaian sopan dan rapi yang menutup aurat.
- Peziarah perempuan dianjurkan memakai kerudung atau jilbab.
- Jaga ketenangan, terutama di dalam ruang makam dan saat orang lain sedang berdoa.
- Jaga kebersihan area masjid dan makam.
- Ingat bahwa ini adalah tempat ibadah yang masih aktif digunakan warga. Hormati jamaah yang sedang salat.
Tips: jika ingin suasana yang lebih tenang, hindari datang pada Kamis malam. Lokasi ini juga dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, dan Kota Tua, sehingga bisa digabung dalam satu perjalanan menyusuri sejarah pesisir Jakarta.
